Sejarah Harian BERNAS (Cetak) hingga Migrasi Total ke BERNAS.ID (Online)

000

KEPINDAHAN ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 akibat invasi Belanda, menandai kelahiran beberapa media baru di kota ini, baik yang berbentuk surat kabar maupun majalah. Beberapa di antaranya yaitu Nasional, Kedaulatan Rakyat, Suara Ummat, Suara Ibukota, Suara Rakyat, Buruh, Massa dan Revolusioner.

Surat kabar Harian Umum Nasional, yang didirikan oleh Mr Soemanang, lahir pada tanggal 15 November 1946, pada awal berdirinya Nasional diterbitkan oleh BP Nasional dengan alamat di Jalan Tanjung Nomor 21 Yogyakarta. Tokoh-tokoh pers yang duduk dalam jajaran redaksi Harian Umum Nasional pada saat itu antara lain Mashoed Hardjokoesoemo, Bob Maemun, Drs Marbangoen, Mohammad Soepadi, Darsyaf Rahman dan RM Soetio yang sekaligus menjadi Pemimpin Perusahaan.

Mr Soemanang yang merupakan pendiri Harian Umum Nasional, selain merupakan tokoh pergerakan dan wartawan senior, juga merupakan salah seorang pendiri Kantor Berita Antara bersama Adam Malik, Sipahutar dan Pandu Kartawiguna. Mr Soemanag juga pernah menjadi wartawan dan Pemimpin Redaksi Pemandangan dan Pemimipin Umum Asia Raya.

Pada saat Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) didirikan, Mr Soemanang diberi kepercayaan untuk memegang jabatan sebagai tenaga juru penerangan PUTERA. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dikumandangkan. Mr Soemanang dan Mashoed Hardjokoesoemo, dari Jawa Shimbun Kai, bertekad menerbitkan surat kabar harian. Setelah kertas dan tinta dipersiapkan dan percetakan sederhana diperoleh, maka diputuskan untuk segera menerbitkan surat kabar daerah di Yogyakarta. Yogyakarta yang saat itu menjadi Ibukota Pemerintahan Indonesia menjadi tempat diterbitkan surat kabar harian dengan nama Nasional dan mingguan Revue Politik.

Pada awal kemerdekaan yang juga dikenal sebagai zaman revolusi, surat kabar nasional terbit dengan jumlah halaman yang terbatas dan tidak menentu, dua atau empat halaman saja. Bahkan tidak jarang terjadi, jika persediaan kertas habis, Nasional terbit dengan kertas merang. Nasib serupa juga dialami oleh beberapa penerbitan lain pada saat itu yang terpaksa terbit dengan kertas payung.

Sebagai surat kabar harian umum, sejak awal berdirinya Nasional selalu mengutamakan kepentingan nasional. Maka sekalipun pendirinya adalah seorang nasionalis, anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), namun ada pula wartawan-wartawan yang merupakan anggota partai-partai lain, misalnya H Ahmad Basuni dan Bahtiar Ilyas.

Dalam perkembangannya, Harian Nasional juga memuat banyak sekali tulisan dari tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia. Ki Hadjar Dewantara banyak menulis artikel di Nasional, baik mengenai masalah sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan pendidikan. Tulisan Ki Hadjar Dewantara yang pernah dimuat di Nasional antara tahun 1949-1951, terhimpun secara rapi di dalam buku yang berjudul Pendidikan dan Kebudayaan, yang diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Tamanasiswa.

Sekitar tahun 1958-1961, pada rubrik Ruang Budaya Nasional banyak seniman dan budayawan yang menyumbangkan tulisan, antara lain Koesnadi, Abas Ali Bsyah, Soedarmadji, Soebagio Sastrowardojo, Wisnu Wardhana, Boedi Darma, M Tahar, Soemargono dan Suwarjono dan lain-lain. Tidak ketinggalan tokoh pendidikan seperti Soetedjo Brodjonegoro dan Prof N Drijarkara ikut banyak menyumbangkan tulisan di koran Nasional.

Perkembangan kondisi politik Tanah Air juga turut berpengaruh terhadap harian Nasional. Pada tahun 1965 Menteri Penerangan melalui Keputusan Menpen No 29/SK/M/65 tertanggal 26 Maret 1965, yang kemudian disempurnakan dengan Surat Keputusan No 112/SK/M/65, memutuskan bahwa setiap penerbitan harus berafiliasi (mendapat dukungan) dari partai politik atau organisasi massa anggota Front Nasional atau Pancatunggal. Kebijakan ini diikuti dengan berafiliasinya harian Nasional dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Kebijakan ini membawa konsekwensi bergantinya nama surat kabar Nasional menjadi Suluh Indonesia (Sulindo), edisi Yogyakarta. Kemudian karena Suluh Indonesia edisi Jakarta (nasional) berganti nama menjadi Suluh Marhaen, sejak 1 Juni 1966 Suluh Indonesia edisi Yogyakarta beganti nama menjadi Suluh Marhaen edisi Yogyakarta.

Tragedi nasional, Peristiwa Penghianatan G-30S/PKI, yang didahului gegap-gempitanya kompetisi Manipolis antara tiga kekuatan politik yang beraliran Nasionalis-Agama-Komunis, mempunyai akibat yang luas dalam perikehidupan politik di Indonesia. Surat Kabar Nasional yang telah berganti nama menjadi Suluh Marhaen edisi Yogyakarta mendapat ujian yang berat. Dampak perubahan politik yang dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia pada saat itu, juga dialami oleh surat kabar ini.
Ada satu hal yang perlu dicatat dan menjadi sebuah kesan yang mendalam sekaligus membanggakan bagi pengasuh penerbitan ini, yaitu Suluh Marhaen edisi Yogyakarta tidak pernah ikut menyiarkan pembentukan dan susunan Dewan Revolusi. Pemimpin Redaksi dan segenap staf redaksi menolak dengan tegas perintah untuk memuat pengumuman Dewan Revolusi yang dipaksakan oleh oknum militer pengikut G30S/PKI yang mendatangi secara langsung kantor redaksi di Jalan Tanjung 21. Pemimpin Redaksi dan segenap staf redaksi justru memilih untuk tidak terbit, daripada memuat pengumuman tersebut.

Dalam suasana jatuh bangun, menghadapi berbagai kendala di bidang bisnis surat kabar, sejak berdirinya Nasional pada tanggal 15 November 1946 kemudian nama Sulindo edisi Yogyakarta dan Suluh Marhaen edisi Yogyakarta hanya sehari saja surat kabar ini tidak terbit.

Dalam perkembangan selanjutnya, dengan adanya SK No 01/MENPEN/1969 yang mencabut segala ketentuan mengenai perusahaan pers termasuk mengenai ketentuan afiliasi dengan partai politik, maka Suluh Marhaen edisi Yogyakarta sejak tahun tersebut berganti nama menjadi Harian Umum Berita Nasional sampai tahun 1990.

Bernas dan Manajemen Baru (1990)

SEJAK 13 Agustus 1990, Berita Nasional mengadakan kerja sama dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) sebuah kelompok usaha penerbitan media terbesar di Tanah Air. Dengan manajemen baru, Berita Nasional mengalami pembaharuan dan mencapai banyak kemajuan sekaligus menandai kelahiran nama baru untuk koran ini menjadi Bernas. Sejak tanggal 10 November 1991, bertepatan dengan Hari Pahlawan, secara resmi koran ini berganti nama menjadi Bernas yang berarti padat berisi (mentes).

Dengan tetap menggunakan motto: Membangun Berdasar Pancasila, pergantian nama ini dilakukan sepenuhnya untuk menyongsong masa depan, dalam pengertian bahwa sebagai koran daerah Bernas harus mampu mendekati realita. Informasi regional dan lokal akan menjadi titik beratnya. Dengan teknologi cetak jarak jauh, seluruh koran dari manapun akan bisa dicetak dan diedarkan pada waktu yang bersamaan termasuk di Yogyakarta, Berita Nasional berganti nama untuk menunjukan identitas yang baru sebagai koran daerah yang lengkap sekaligus bervisi nasional. Bernas harus muncul sebagai koran daerah yang “mentes” banyak isinya sekaligus dapat dipercaya. Bernas yang muncul dalam manajemen baru menandai pula kehadirannya yang lebih lengkap dengan muatan dan jumlah halaman bertambah dari sebelumnya 8 halaman, sejak saat itu Bernas mulai terbit dalam 12 halaman.

Re-Inventing Bernas ke Bernas Jogja (29 Agustus 2004)

SEKIAN lama menemani para pembaca setia, manajemen merasa perlu melakukan evaluasi terhadap mutu dan pelayanan yang ada. Sehingga pada tanggal 29 Agustus 2004 koran yang selama ini dikenal dengan nama BERNAS yang semula diterbitkan oleh PT BERNAS direinventing atau dilahirkan kembali di semua hal oleh manajemen baru yang lebih mandiri yakni PT Media Bernas Jogja. Tujuannya tak lain untuk eksitensi ke depan dan memuaskan pembaca koran kebanggaan warga Jogja dan sekitarnya ini.

Apa yang di re-iventing? Pertama, nama dan logo koran ini dari BERNAS diubah menjadi BERNAS JOGJA. Dengan nama baru ini mudah-mudahan terasa lebih membumi atau lebih Jogja. Otomatis siapa pun akan tahu ini memang koran kebanggaan orang Jogja.

Kedua, jika sebelumnya BERNAS menggunakan kertas 9 kolom, mulai edisi tanggal 29 Agustus 2004 dan seterusnya BERNAS JOGJA hadir dalam kemasan ukuran 7 kolom. Ukuran koran seperti ini memang sudah jadi trend di seluruh dunia karena lebih memudahkan orang membacanya, terutama bila berada di tempat-tempat umum karena tidak memakan tempat.

Ketiga, BERNAS JOGJA tampil lebih berwarna, lebih ngejreng. Bila selama ini hanya punya 2 halaman warna kini menjadi 4 halaman. Tampilan koran ini menjadi 2 sesi. Sesi pertama disebut Koran Utama yang memuat berita umum, sedangkan sesi dua atau Koran 2, seratus persen menyajikan berita lokal Jogja dan sekitarnya.

Keempat, untuk sementara BERNAS JOGJA terbit 16 halaman. Namun Insya Allah waktu yang tak terlalu lama siap hadir 20 halaman atau dengan inovasi-inovasi baru dalam rubrikasi. Dengan demikian pembaca akan mendapat informasi yang lebih banyak, layak dan bermutu.

Selain keempat hal tadi, BERNAS JOGJA juga melakukan perubahan paradigma. Pertama, tampil lebih independen alias tidak memihak kepada siapa pun dan kekuatan mana pun. BERNAS JOGJA memang bukan alat siapa pun, karena hadir semata-mata untuk memuaskan pembaca khususnya dan masyarakat Jogja umumnya.

Pro bisnis akan menjadi sikap BERNAS JOGJA. Artinya, koran ini akan tetap mengedepankan prinsip-prinsip koran modern dalam lingkup industri persuratkabaran yang sehat dan bermartabat. Pasti, penampilan dan sajian akan tetap berlandaskan pada kemauan pasar.

BERNAS JOGJA menganut asas jurnalisme kesetiakawanan. Artinya menyajikan berita-berita, tulisan-tulisan dan gambar maupun foto yang sejuk, damai dan menyenangkan semua warga Jogja. Yang terakhir, sumberdaya manusia terus diasah untuk menjaga profesionalisme para wartawan dan karyawan. Langkah pertama adalah memerangi “wartawan amplop”. Karena dengan langkah ini visi dan misi BERNAS JOGJA sebagai koran independen, pro bisnis dan sejuk tersebut akan terwujud. Langkah awal ini tercapai jika masyarakat juga ikut mendukungnya. Dengan segala perubahan ini mudah-mudahan BERNAS JOGJA dicintai serta menjadi kebanggaan masyarakat Jogja.

Wajah Baru Harian BERNAS (10 Juli 2015)
Inspirasi Bisnis dan Pribadi Bertumbuh

TANGGAL 20 Mei 2015, Putu Putrayasa, CEO dari HEBAT Group Asia yang berfokus dengan dunia pendidikan dan property, merasa kagum dengan perjalanan sejarah tumbuh kembang hingga pasang surut BERNAS yang dapat tetap terbit. Sehingga ia terbius untuk turut menjaga BERNAS, warisan para pejuang media di negeri ini.

Berawal dari kepimpinan Putu Putrayasa tersebut, tepatnya pada Jumat Kliwon, 10 Juli 2015, nama Harian Pagi BERNAS JOGJA dikembalikan lagi menjadi HARIAN BERNAS. Perlu suasana baru untuk menjaga semangat kebangkitan BERNAS, maka ada perubahan nama dari BERNAS JOGJA yang terkesan koran daerah menjadi HARIAN BERNAS.

Logo otomatis berubah, tagline, desain, konten serta tentu saja cara kami berkomunikasi pun berubah. Tagline BERNAS berubah menjadi “Inspirasi Bisnis dan Pribadi Bertumbuh”, sebagai bentuk dukungan dan sumbangan dalam menghadapi persaingan bebas yang melibatkan 600 juta penduduk ASEAN. Tanpa persiapan, kita hanya akan menjadi penonton dan konsumen saja.

BERNAS ingin turut berkontribusi bagi kemajuan dan kesiapan putra-putri negeri agar berkembang menjadi pribadi yang bertumbuh yang optimistis, percaya diri dan siap bersaing. Bisnis saat ini bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan, melainkan bagian penting dalam kehidupan sekitar 250 juta penduduk Indonesia. Maka BERNAS ingin ambil bagian dalam membangun pribadi dan bisnis bertumbuh. Hanya melalui pribadi bertumbuhlah bisnis bisa bertumbuh. Izinkan BERNAS mengajak bertumbuh bersama, memberi Aksi, Prestasi dan Inspirasi (API) bagi Indonesia.

HARIAN BERNAS.Com (15 November 2015)

HARIAN BERNAS bukan sekadar koran pengungkap fakta biasa, namun memposisikan sebagai koran istimewa yang independen dan sebagai penebar inspirasi pembangun negeri. Hadir bersama dengan versi online HARIAN BERNAS.Com yang diresmikan bertepatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 69, pada tanggal 15 November 2015, bertempat di Sahid Rich Hotel Yogyakarta. Merupakan bentuk konvergensi media antara media cetak yang hadir secara lokal di DIY dan sekitarnya, serta sajian dalam bentuk online yang jangkauan lebih mengglobal.

Konvergensi media tersebut dalam rangka menjawab kebutuhan dan keaneka ragaman segmen pembaca masa kini yang juga sering disebut generasi milenial seperti halnya yang telah dilakukan oleh koran-koran besar nasional lainnya.

BERNAS.Id ( Agustus 2017 – Migrasi total, 1 Maret 2018)

Perkembangan HARIAN BERNAS.Com dilihat dari data pengunjung mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan HARIAN BERNAS versi cetak (koran cetak). Pertama, konsep penggarapan yang sangat berbeda antara bentuk online yang memerlukan keragaman di samping kecepatan tentunya. Kedua, dari sisi jangkauan jelas lebih luas tidak terbatas oleh waktu dan ruang.

PT Media Bernas Jogja atau manajemen merasa perlu untuk meningkatkan performa HARIAN BERNAS.Com dari berbagai aspek termasuk kualitas dan kuantitas konten, serta kemudahan aksesnya. Oleh karena itu, pada sekitar awal bulan Agustus 2017 laman/ website HARIAN BERNAS.Com (www.harianbernas.com) diubah menjadi BERNAS.ID (www.bernas.id).

Sementara perkembangan HARIAN BERNAS cetak beberapa bulan terakhir di penghujung tahun 2017 mengalami stagnan, bahkan kecenderungan menurun hingga awal tahun 2018. Penurunan pada pembaca/ pelanggan ini bisa jadi disebabkan perubahan gaya hidup era milenia yang berpengaruh pada penurunan minat baca media cetak dan berganti pada media online.

Penurunan pembaca atau oplah HARIAN BERNAS juga berdampak pada pemasukan omset iklan, secara bisnis penerbitan koran cetak dari bulan ke bulan mengalami kerugian yang akhirnya pada tanggal 28 Pebruari 2018 manajemen memutuskan untuk menghentikan HARIAN BERNAS cetak dan migrasi total terbit secara online ke BERNAS.ID. Dengan demikian, sejak 1 Maret 2018 Harian BERNAS versi cetak bermigrasi total ke media online BERNAS.ID hingga kini.

RINGKASAN SEJARAH NAMA BERNAS BERDASAR TANGGAL:

Tanggal 15 November 1946 – Harian NASIONAL
Tanggal 26 Maret 1965 – Harian Suluh Indonesia
Tanggal 1 Juni 1966 – Harian Suluh Marhaen
Tahun 1969 – Harian Umum BERITA NASIONAL
Tanggal 10 November 1991 – Harian BERNAS
Tanggal 29 Agustus 2004 – Harian Pagi BERNAS JOGJA
Tanggal 10 Juli 2015 – HARIAN BERNAS

Konvergensi Media Online:
Tanggal 15 November 2015 – HARIAN BERNAS.Com
Agustus 2017 – BERNAS.ID
Tanggal 1 Maret 2018 – Migrasi Total ke BERNAS.ID hingga sekarang

Sumber: https://www.bernas.id/64424-sejarah-harian-bernas-cetak-hingga-migrasi-total-ke-bernasid-online.html

Per Hari Ini Sabtu, 9 Mei 2026 WIB
Total Member: 7254